Tempat Rekreasi Di Sekitar Royal Mediterania Garden Jakarta Barat

Tempat Rekreasi Di Sekitar Royal Mediterania Garden Jakarta Barat

Sebagai salah satu hunian vertikal di Jakarta Barat, Royal Mediterania Garden memiliki lokasi yang strategis. Lokasinya yang berada di Jalan Letjen S. Parman, Tanjung Duren Selatan, Jakarta Barat, memudahkan penghuninya menikmati berbagai sarana hiburan baik dengan transportasi umum atau kendaraan pribadi. Tak hanya mall, masih ada banyak tempat rekreasi di sekitar Royal Mediterania yang bisa Anda datangi.

Tempat Rekreasi Di Sekitar Royal Mediterania Selain Mall

Kota Tua Jakarta
Kota Tua mengingatkan kita pada Batavia Lama. Kota Tua menjadi pusat perdagangan karena lokasinya yang strategis untuk industri pedagangan rempah di kepulauan nusantara. Kebanyakan layout jalan di Kota Tua tidak berubah sejak berdirinya Batavia di abad 17.

Kota Tua dulunya menjadi rumah bagi berbagai bangunan bersejarah di Jakarta, antara lain:
– Gedung Arsip Nasional
– Petak Sembilan
– Museum Fatahillah
– Museum Bahari
– Masjid Luar Batang

Toko Merah
Toko Merah menjadi landmark kolonial Belanda yang beradi di Kota Tua. Dibangun pada tahun 1730, bangunan ini jadi salah satu yang tertua di Jakarta. Bangunan ini terletak di sisi barat kanal Kali Besar. Nama Toko Merah diambil dari warna bangunan yang dominan merah.

Toko Merah dibangun di tahun 1730 pada pemerintahan Jenderal Gubernur Baron van Imhoff (1743-1750). Setelahnya, bangunan berganti kepemilikan beberapa kali. Bangunan ini juga pernah beralih fungsi menjadi hotel dari 1786 sampai 1808. Saat itu, bangunan Toko Merah juga menyediakan 6 kapal di Kali Besar sebagai transportasi barang dari pelabuhan Sunda Kelapa. Di tahun 1851, bangunan Toko Merah dibeli oleh Oey Liauw Kong dan dijadikan tempat tinggal sekaligus tokonya, dan dicat dengan warna merah, sehingga dikenal dengan nama Toko Merah.

Baca lebih lanjut tentang apartemen Royal Mediterania Garden.

Glodok (Chinatown)
Glodok juga dikenal dengan Pecinan atau Chinatown karena di era penjajahan Belanda, mayoritas pedagang di Glodok adalah keturuan China. Saat ini area Glodok dikenal sebagai pusat elektronik di Jakarta.

Kata Glodok berasal dari bahasa Sunda “Golodog” yang berarti pintu masuk rumah, karena Sunda Kelapa (Jakarta) menjadi jalan masuk menuju kerajaan Sunda. Ada juga yang menganggap nama Glodok berasal dari “grojok grojok” suara air yang keluar dari pipa penyemprot air di alun-alun kota (sekarang Museum Jakarta). Penyemprot air dibuat di area ini pada tahun 1743 dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mengisi air pada lubang tempat minum kuda.

Sebagai pusat perbelanjaan, kebanyakan penjual di Glodok adalah China Indonesia. Glodok menjadi Chinatown terbesar di Indonesia, bahkan yang terbesar di dunia. Orang China datang ke Jakarta sejak abad 17 sebagai pedagang. Kebanyakan berasal dari provinsi Fujian dan Guangdong di China Selatan.

Museum Wayang
Selanjutnya, tempat rekreasi di sekitar Royal Mediterania adalah Museum Wayang. Museum ini didedikasikan untuk wayang Jawa. Museum terletak di Kota Tua, Jakarta. Ini jadi satu dari beberapa museum yang menghadap Fatahillah Squre, yang mencakup Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik, dan kantor pos kota.

Bangunan museum termasuk situs gereja yang dibangun pada tahun 1640, dengan nama Old Dutch Church. Pada tahun 1732, gereja direnovasi dan namanya diganti menjadi New Dutch Church. Pada tahun 1808, gempa bumi menghancurkan gereja. Lalu di tahun 1912, sebuah bangunan dibangun dengan gaya Renaissance, yang awalnya berfungsi sebagai gudang milik Geo Wehry & Co. Di tahun 1938, gedung direnovasi, mengikuti arsitektur Belanda. Taman pada Museum Wayang, terletak di area depan gereja, menjadi situs pemakaman Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen.

Lalu, bangunan dibeli oleh Batavia Society of Arts and Sciences, sebuah institusi yang membidangi budaya Indonesia. Intitusi ini kemudian mengubah gedung ini menjadi Old Batavia Foundation dan pada 22 Desember 1939, dijadikan museum dengan nama Old Batavia Museum. Di tahun 1957, setelah kemerdekaan Indonesia, bangunan ini diserah terimakan ke Lembaga Kebudayaan Indonsia dan pada 17 September 1962 ke kementerian pendidikan dan kebudayaan. Pada 23 Juni 1968 Pemerintah Jakarta memasukkan bangunan ini sebagai bagian dari Museum Wayang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *